Kasman Singodimedjo adalah nama yang harus selalu diingat bangsa Indonesia, bukan hanya karena jasa-jasanya bagi negara, melainkan karena keteladanannya sebagai pejabat negara yang memegang teguh kejujuran dan integritas setinggi langit. Ia adalah mantan Jaksa Agung, Ketua KNIP, tokoh perumus dasar negara, dan akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2018. Namun di balik semua gelar dan jabatan tinggi itu, tersimpan kisah luar biasa: setelah tidak lagi menjabat, ia rela menjadi pedagang es lilin berkeliling kampung, kuli bangunan, dan pekerja kasar lainnya hanya demi bertahan hidup karena ia tidak pernah mengambil sepeser pun uang rakyat atau menyalahgunakan kekuasaannya demi keuntungan pribadi.
► Jejak Jasa dan Jabatan: Dari Perumus Negara Hingga Puncak Kejaksaan
Lahir di Purworejo, 25 Februari 1904, Kasman Singodimedjo tumbuh menjadi pemuda cerdas, berpendidikan hukum, dan sangat nasionalis. Ia aktif dalam organisasi pemuda dan Muhammadiyah, kemudian terlibat langsung dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI, ikut merumuskan Piagam Jakarta dan Undang-Undang Dasar 1945 dasar hukum dan ideologi negara kita hingga hari ini.
Segera setelah kemerdekaan, nama Kasman langsung ditempatkan di posisi strategis:
Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) – lembaga legislatif pertama, cikal bakal DPR, yang memegang peran sangat besar mengatur negara di masa awal yang penuh gejolak.
Jaksa Agung Republik Indonesia (1945–1946) – pemimpin tertinggi lembaga kejaksaan pertama kali dibentuk, ia menyusun struktur, aturan, dan sistem penegakan hukum yang masih menjadi landasan hingga sekarang.
► Pernah menjabat Menteri Muda Kehakiman dan tokoh pembentuk Badan Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI).
Di masa memegang jabatan, ia dikenal sangat tegas, adil, dan murni mengabdi. Baginya, kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa atau alat memperkaya diri. Ia hidup sederhana, tidak menerima hadiah, tidak mengurus proyek, dan tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk kepentingan keluarga atau kerabat. Ia percaya bahwa gaji yang diterima sudah cukup, dan segalanya milik rakyat harus dikembalikan untuk kepentingan rakyat pula.
► Saat Jabatan Lepas: Menjadi Pedagang Es Lilin dan Kuli Bangunan
Kisah paling menyentuh dan menjadi bukti integritasnya terlihat jelas setelah ia tidak lagi memegang jabatan. Berbeda dengan banyak pejabat yang saat turun jabatan masih memiliki kekayaan, rumah mewah, aset berlimpah, atau jaringan kekuasaan, Kasman Singodimedjo pulang ke rumah dengan tangan kosong. Ia tidak punya tabungan besar, tidak punya tanah warisan tambahan, tidak ada fasilitas negara yang masih dinikmati. Segala kemewahan yang melekat pada jabatan hilang seketika.
Untuk menyambung hidup dan memberi makan istri serta enam anaknya, Kasman tidak pernah malu atau gengsi mengambil pekerjaan apa pun yang halal dan jujur. Di bawah terik matahari Jakarta, ia berkeliling kampung sambil memanggul wadah berisi es lilin, berteriak menawarkan dagangan seperti pedagang kecil biasa. Di hari lain, ia bekerja sebagai kuli bangunan: mengangkut semen, batu bata, pasir, dan mengerjakan pekerjaan berat lainnya. Pernah juga ia menjadi penjaga malam, demi mendapatkan uang sedikit demi sedikit.
Ada kisah yang sangat mengharukan: seorang sahabat seperjuangan yang berpapasan melihat Kasman sedang memanggul beban berat di pasar, hatinya hancur dan menangis. Ia bertanya, “Pak Kasman, mengapa Bapak harus hidup begini? Dulu Bapak Ketua KNIP, Jaksa Agung, pemimpin negara… kenapa tidak ambil sedikit saja waktu berkuasa?”
Dengan tenang dan senyum ikhlas, Kasman menjawab:
“Lebih baik hidup kekurangan tapi jujur, daripada makan, pakai, dan tinggal mewah dari hasil mengambil hak rakyat. Kemiskinan yang bersih jauh lebih mulia daripada kekayaan yang ternoda dosa.”
Ucapan itu menjadi prinsip hidupnya hingga akhir hayat. Ia tidak pernah mengeluh, tidak meminta bantuan negara, dan tidak merasa dirinya “mantan pejabat besar”. Baginya, semua pekerjaan halal itu sama mulianya, dan martabat seseorang bukan dilihat dari jabatan, melainkan dari kejujurannya.
► Warisan Terbesar: Teladan Integritas untuk Generasi Bangsa
Kasman Singodimedjo wafat pada 25 Oktober 1982, dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Ia meninggal dunia tanpa mewariskan harta kekayaan, rumah besar, atau aset apa pun yang berharga. Yang ia tinggalkan hanya satu: teladan hidup yang tak ternilai harganya.
Barulah pada tahun 2018, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional, bukan hanya karena jasa politik dan hukumnya, tetapi khususnya karena keteladanannya dalam kejujuran dan integritas nilai yang makin langka namun sangat dibutuhkan bangsa ini.
Hari ini, ketika kita sering mendengar berita korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pejabat yang kaya raya padahal gajinya terbatas, nama Kasman Singodimedjo menjadi cermin dan peringatan keras. Ia membuktikan:
– Pejabat negara haruslah pelayan rakyat, bukan penguasa yang berkuasa.
– Jabatan tidak boleh dijadikan alat mengumpulkan kekayaan.
– Kejujuran dan hidup sederhana adalah kemuliaan tertinggi seorang pemimpin.
Bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin besar, berjasa besar, namun tetap hidup miskin dan sederhana karena ia tidak pernah mengambil apa yang bukan haknya.
Kasman Singodimedjo adalah contoh pejabat Indonesia yang sesungguhnya. Ia mengajarkan kita: nilai seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa mewah hidupnya saat berkuasa, melainkan dari seberapa bersih hidupnya saat kekuasaan itu hilang. Dan di situlah letak kemuliaan terbesar beliau: tetap jujur, tetap sederhana, tetap setia pada janji hingga akhir hayatnya.
Serasa membaca fiksi namun fakta…..mungkinkah pejabat Indonesia ada yang demikian saat ini…………….mustahal tapi tetap berharap dan lahir pejabat sebagaimana
Sang Jaksa Agung “Kasman Singodimedjo”
Oleh Ariep Mulyadi, S.H.,M.H.,C.Med.
Presiden Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaa
Leave a comment